Online shopping

Kenali Apa itu Digital Disruption Dan Bagaimana Bisnis Anda Bisa Survive Menghadapinya

Makin hari makin sering kita dengar istilah Digital Disruption berkumandang di sela-sela pembicaraan kita. Pagi ini tiba-tiba saya membaca status dari Om Iqbal Maulana, CEO Advertisa Digital Agency, yang mengupload gambar ini:

Apa itu Digital Disruption

Jadi apa sih artinya Digital Disruption itu?

Kata ‘Disruption” berarti penggangu, pengacau, atau biang kerok. Secara bebas arti kata dari Digital Disruption adalah sesuatu yang datang setelah era digital dan mengganggu kestabilan bisnis yang tidak menggunakan internet dan teknologi digital sebagai nilai tambahnya.

Kata disruption sendiri sebenarnya agak rancu, sering salah dipahami, terutama kalau orang tidak mengerti konteksnya yang dalam hal ini adalah dunia digital.

Video explainer dari Forrester Research ini menjelaskan tentang masalah Digital Disruption lebih detail.

Istilah Digital Disruption selanjutnya bisa dimaknai sebagai perubahan yang timbul karena Teknologi Digital dan Model Bisnis Digital yang berimbas kepada naik-turunnya nilai bisnis dari sebuah jasa atau barang yang telah ada sebelumnya.

Kasus tentang Digital Disruption yang fenomenal di Indonesia adalah GOjek.

Dengan menggunakan teknologi digital, GOjek berhasil merekrut ratusan ribu driver tanpa sepeserpun mengeluarkan uang untuk membeli motor. Apa yang dilakukan GOjek tentu saja merubah secara total model bisnis ojek yang sebelumnya tidak dikelola dengan profesional.

Sebelum datangnya GOjek, bisnis ojek sendiri sudah lama berjalan. Model bisnis transportasi roda dua seperti ini sangat umum di masyarakat Indonesia. Setiap dari kita pasti mengenal setidaknya 3 orang yang menjadi pengemudi ojek dan minimal pernah sekali dalam seumur hidup menggunakan jasa ojek.

Namun apa yang membuat kita berbeda dengan Nadiem Makarim sang pendiri GOjek?

Kita mengalami masalah yang sama saat menggunakan ojek; takut tertipu atau susah mencari saat butuh, tetapi Nadiem memberikan solusi dengan menggunakan teknologi digital dan membangun model bisnis yang sangat berbeda dengan bisnis ojek konvensional.

Untuk itu, Nadiem layak disebut sebagai Digital Disruputer, atau orang yang mampu menggunakan teknologi digital untuk membawa perubahan.

Selain GOjek di bisnis transportasi, mulai banyak lini bisnis yang mulai didatangi oleh para Digital Disrupter ini. Di bisnis perhotelan ada Airbnb yang mampu menyediakan kamar tanpa memiliki propertinya. Di bisnis telekomunikasi ada WeChat atau Line yang memberikan layanan telepon gratis melalui Internet. Di bisnis grosir & retail ada Tokopedia dan BukaLapak yang menjual jutaan item tanpa punya stok barang.

Lalu, apakah bisnis anda aman dari ‘serangan’ Digital Disruption?

Ada satu ungkapan yang beredar di kalangan pebisnis di LinkedIn yang berbunyi “Hanya ada SATU bos di dunia ini. Ia adalah PELANGGAN anda. Dan dia bisa memecat semua orang di perusahaan anda, dari direktur sampai tukang sapu, hanya dengan melakukan satu hal yang sangat sederhana; yaitu dengan membelanjakan uangnya di tempat lain”

Kesimpulannya, semakin banyak pelanggan anda yang terhubung ke Internet, semakin besar peluang mereka membeli barang dan kebutuhannya di tempat lain, yang berarti kalau tidak secepatnya anda tangani, pangsa pasar bisnis anda akan semakin turun.

Jadi kenali pelanggan anda. Pelajari behaviour mereka. Kalau mereka melek internet. Segera terapkan strategi digital marketing agar mereka tetap menjadi pelanggan anda.

2 thoughts on “Kenali Apa itu Digital Disruption Dan Bagaimana Bisnis Anda Bisa Survive Menghadapinya

  1. Digital Disruption berarti untuk bisnis digital saja ya?
    Nah kalau untuk mall-mall yang menyediakan tempat tanpa punya produk ( disewakan kepada orang yg mau jualan), atau komplek pertokoan, bisa juga disebut Disruption?

    Setahu saya, Tokopedia dan Bukalapak itu konsepnya mirip2 lah dengan mall gitu…

    Kalo di Bali yg cukup populer itu ada namanya RTC Rimo, rata2 orang tahunya klo beli komputer dan aksesorisnya, udah pasti ke Rimo, setahu saya RIMO (Tempatnya) dengan toko yang ada disana (penjual) bukanlah satu manajemen, dalam artian mereka tidak ada hubungan sama sekali kecuali hanya sebatas sewa-menyewa saja…

    1. Justru Digital Disruption itu terjadi ketika bisnis digital mulai menyerang ke bisnis konvensional Om Windu. Terlepas dia itu Mall atau toko biasa. Ketika pelanggan kita punya akses ke mall online seperti Tokopedia dan bisa mendapatkan barang yang dia inginkan disana dengan harga murah. Itu berarti kemungkinkan kita kehilangan pelanggan jadi makin besar.

      Kalau Mall lokal seperti RTC Rimo bisa tetap ramai karena pelanggan mereka ‘mungkin’ masih mempertimbangkan ongkos kirim dari Jakarta untuk beli komputer. Atau bisa jadi lebih percaya beli disana karena faktor garansi dan servis.

      Tapi kalau ada satu saja pemain lokal di Bali yang menerapkan Digital Marketing untuk menjaring pasar Computer & Consumer Electronics secara online. Maka perlahan-lahan pelanggan akan beralih ke orang tersebut.

      Percaya ga?

Leave a Reply